Potret Aksi Mulai dari Long March hingga Mimbar Bebas di Di Simpang Lima dan Braga (Sumber: Perslima)
Bandung, 20 Oktober 2026 — Aliansi mahasiswa dan masyarakat sipil menggelar aksi dalam momentum dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Aksi ini mengangkat kritik terhadap kebijakan agraria dan lingkungan, kondisi ekonomi dan ketenagakerjaan, pengelolaan anggaran negara, hingga kebebasan sipil dan demokrasi. Keempat hal tersebut kemudian dijadikan sebagai tuntutan aksi kali ini, karena mengandung posisi politik yang jelas: mendorong pemerataan penguasaan sumber daya, perlindungan pekerja, penguatan pelayanan publik, serta penghormatan terhadap hak demokratis.
Dihadiri oleh berbagai kalangan dari anak-anak hingga lansia, disertai jajaran mahasiswa dari berbagai universitas seperti UPI, UNPAD, ITB, Universitas Widyatama, Uninus, Unpas, dan juga perguruan tinggi lainnya, aksi ini bukan hanya ajang penyampaian tuntutan semata, melainkan sebagai simbol persatuan rakyat Indonesia yang ingin mendorong perubahan kebijakan negara agar lebih berpihak pada kepentingan rakyat, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, melindungi lingkungan, dan menjamin kebebasan demokratis.
Aksi diisi dengan long march dari Jalan Asia Afrika menuju Simpang Lima, kemudian lanjut ke Jalan Braga. Pada kedua titik henti tersebut, diadakan mimbar bebas kebudayaan yang disertai dengan berbagai penampilan lain seperti puisi, teatrikal, a noise, bermain sepak bola, hingga kesenian benjang khas Bandung Timur, yang menjadi bahan bakar semangat para peserta aksi dalam memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan rakyat Indonesia.
Ungkapan Perasaan Massa Aksi, dari Mahasiswa hingga Pedagang Kaki Lima

Salah Satu Spanduk yang Menyatakan Perlawanan atas Kebijakan di Indonesia, Terkhusus Mengenai Pendidikan (Sumber:Perslima)
Salah satu peserta aksi yang berasal dari Kesatuan Mahasiswa Setia Rakyat Kota Bandung, Naufal Taqie, turut menyampaikan alasan keikutsertaannya dalam aksi kali ini.
“Alasannya jelas untuk memperingati 2 periode (yang dimaksud adalah 2 tahun) rezim Prabowo-Gibran yang sangat merugikan rakyat ya. Secara kebijakan ekonomi, politik, dan ranah sipil lainnya, itu rakyat Indonesia sangat dirugikan,” ujar Taqie dengan nada cukup frustasi dengan segala kondisi di Indonesia.
Sebagai seorang mahasiswa, Taqie juga tak lupa untuk menyoroti kondisi kebijakan pendidikan yang tak kalah mirisnya.
“Apalagi bagi sektor pendidikan yang dimana alokasi dana pendidikan 20%-nya itu disedot kepada MBG. Sehingga dari SD, dari PAUD, bahkan sampai perguruan tinggi itu merasakan dampaknya ya, atas efisiensi, kenaikan UKT, dan juga uang kuliah yang semakin mahal.” ucapnya berkeluh kesah.

Potret Setelah Mewawancarai Salah Satu Pedagang Kue Basah di Sekitar Kawasan Aksi (Sumber: Perslima)
Tak hanya mahasiswa, salah satu pedagang kaki lima juga turut menyampaikan pandangannya mengenai adanya aksi hari ini. “Memang bagus sih ada aksi seperti ini, jadi menyampaikan aspirasi, memang bagus buat ke depannya,” ujar Suherlan sebagai seorang pedagang kue basah yang mendukung adanya aksi.
Latar Belakang Terjadinya Aksi

Potret Setelah Mewawancarai Salah Satu Koordinator Aksi dari Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Bumi Siliwangi (Sumber: Perslima)
Suatu kegiatan tak akan terlepas dari adanya koordinasi di balik layar. Salah satu mahasiswa yang berasal dari UPI Bumi Siliwangi, Bilal Alfarizi, sebagai salah satu koordinator dalam pelaksanaan aksi juga menyampaikan bahwa berbagai kejadian yang merugikan rakyat Indonesia menjadi latar belakang pelaksanaan aksi kali ini.
“Ya, mengingat kita sudah melihat gitu ya bahwasannya hari ini adalah 2 tahun kinerja Prabowo dalam 1 periode kali ini, yang dimana dalam 2 tahun ini banyak kejadian-kejadian yang sungguh merugikan masyarakat Indonesia dan semakin menyiksa masyarakat Indonesia. Bukan hanya itu saja, banyak kejadian-kejadian yang diluar nalar seperti karhutla, MBG beracun, IHSG menurun, dan bagaimana tidak kita berhak untuk melaksanakan evaluasi kali ini, 2 tahun kinerja Prabowo kali ini,” sebut Bilal dengan sorot mata frustasi.
Tanggapan serta Harapan dari Keempat Tuntutan

Potret Penyampaian Aspirasi, Tuntutan, dan Pelaksanaan Mimbar Bebas pada Dua Titik Aksi (Sumber: Perslima)
Menyoroti hal-hal yang melatarbelakangi munculnya aksi, tuntutan yang dirumuskan ketika konsolidasi yang diadakan sebelumnya juga turut menjadi fokus utama saat digelarnya rangkaian kegiatan selama mimbar bebas kebudayaan. Keempat tuntutan tersebut di antaranya:
- Hentikan monopoli dan perampasan tanah rakyat berkedok ketahanan pangan dan transisi energi yang telah menciptakan kerusakan lingkungan, kebakaran hutan, serta perampasan ruang hidup rakyat! Bubarkan Batalyon Teritorial Pembangunan, hentikan ekspansi perkebunan skala besar, jalankan Reforma Agraria Sejati!
- Batalkan US-Indonesia Agreement on Reciprocal Trade (ART), hentikan badai PHK dan politik upah murah, hentikan kenaikan pajak dan harga kebutuhan pokok, serta bangun industri nasional berbasis reforma agraria sejati!
- Hentikan pemborosan dan korupsi anggaran negara! Hentikan MBG, KDMP, dan proyek militer negara! Potong anggaran polisi dan tentara untuk dialokasikan bagi jaminan sosial rakyat terutama pendidikan dan kesehatan!
- Stop diskriminasi negara, kekerasan aparat, kriminalisasi, serta pembungkaman hak demokratis rakyat dalam berkumpul, berserikat, berekspresi dan menyatakan pendapat!
Berdasarkan keempat tuntutan tersebut, Bilal menyampaikan harapannya kepada pemerintah untuk bisa mengevaluasi setiap kinerja yang telah dilakukan selama dua tahun terakhir.
“Tuntutan-tuntutan tersebut dengan harapannya Prabowo dapat memperbaiki, evaluasi gitu ya dengan kinerja-kinerja tersebut,” ucapnya penuh harap.

Beberapa Potret Pelaksanaan Mimbar Bebas Kebudayaan, a Noise hingga Kesenian Benjang Khas Bandung Timur (Sumber:Perslima)
Sebagai salah satu koordinator aksi, Bilal menyebutkan bahwa aksi ini merupakan aksi damai sehingga mimbar bebas kebudayaan dipilih sebagai metode dalam menyampaikan aspirasi rakyat.
“Ini merupakan bentuk aksi damai, maka kita harus menunjukkan gitu ya pentas budaya yang dimana sebagai bentuk solidaritas dari masyarakat,” jelasnya meyakinkan.
Geser kembali pada massa aksi, Taqie juga turut menanggapi bahwa dari keempat tuntutan yang ada, persoalan KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) dan pendidikan merupakan persoalan yang paling mendesak saat ini.
“Persoalan yang paling mendesak adalah bagaimana pemerintahan hari ini itu naik secara gegabah, secara KKN ya, korupsi, kolusi, dan nepotisme, dan juga yang paling pokok, kebetulan saya dari UPI juga, konsen terhadap isu-isu pendidikan, yang dimana komersialisasi pendidikan itu merupakan hal yang mendasar yang dihadapi oleh rakyat Indonesia hari ini,” ujarnya menjelaskan dengan nada tegas.
Menunjukan Kekecewaan dalam Bentuk Persatuan dan Perjuangan

Potret Setelah Mewawancarai Salah Satu Peserta Aksi yang Berasal dari Kesatuan Mahasiswa Setia Rakyat Kota Bandung (Sumber: Perslima)
Sebagai mahasiswa, Taqie berharap melalui aksi kali ini dapat mempererat persaudaraan antar masyarakat sekaligus menunjukkan kepada pemerintah akan kondisi kritis Indonesia.
“Hari ini kita berhasil bersatu, kembali bersama rakyat, turun kepada gerakan rakyat sejati. Bersama kampung kota, Dago Elos, Sukahaji, Sumedang, dan juga beberapa kampus di Bandung seperti UPI, UNPAD, ITB, dan kawan-kawan kolektif individu lainnya, mampu kita berjuang bersama rakyat itu sendiri, harapannya pemerintah sadar dan tahu respon kita di Bandung itu bagaimana, dan juga tahu bagaimana tuntutan dan situasinya atas keadaan yang semakin krisis, harga bahan pokok menaik. Dan itu semoga pemerintah bisa mengendalikannya, dan juga rakyat bisa sejahtera berdasarkan UUD 45 dan Pancasila,” tutur Taqie mengungkapkan harapannya.
Menanggapi respon dari beberapa massa aksi, tercermin perasaan yang dirasakan oleh mereka mengenai kondisi negara ini. Keberadaan mereka merupakan representasi atas kekecewaan terhadap kinerja dan kebijakan pemerintah selama dua tahun masa pemerintahan yang dikepalai oleh Prabowo dan Gibran.
Opini penulis
Tahun 2024-2026, dua tahun kepemimpinan yang dikepalai oleh Prabowo dan Gibran menjadi ajang untuk masyarakat turut mengevaluasi berbagai macam kinerja yang telah dilakukan, sekaligus menilai kebijakan-kebijakan yang diberlakukan. Mengkritisi apa yang menjadi hak warga negara yang belum sepenuhnya bisa didapatkan, menjadi landasan dari pergerakan aksi kali ini.
Bukan keempat tuntutan yang menjadi fokus utama, namun bagaimana rakyat bersatu, berani, dan bersuara untuk menegakkan keadilan saat melihat kondisi kritis bangsa Indonesia, itulah yang menjadi titik utamanya. Berbagai persoalan yang perlahan-lahan secara sadar maupun tidak sadar menjadi membesar, dengan penanganan dan tindakan yang tak kunjung menuntaskan, berhasil mendorong pergerakan dari berbagai kalangan untuk menyuarakan keadilan.
Siapa pun bisa menjadi korban, baik itu hewan, tumbuhan, rakyat biasa, bahkan pemerintah sekalipun, tak akan luput dari dampak yang terjadi jika kondisi darurat tak kunjung ditangani. Maka dari itu, persatuan dari seluruh kalangan sangatlah diperlukan untuk memulihkan kondisi
Redaktur Pelaksana: M. Andika Irpan Maulana
Reporter: Shafiyyah Nurul Husna. M
Penulis Berita & Takarir: Desy Nur Indah Sari
Editor: Keisya Aprilia Putri & Maulida Siti Nurhaliza
Layouter: Risma Ramadhani & Ananda Alya Puteri. M
Foto Video: Ihsan Fathin Mohammed

