PERSLIMA Berita Ekonomi Tertekan Harapan Tak Padam: Menakar Dampak Pelemahan Nilai Tukar Rupiah di Lingkungan UPI Kampus Cibiru
Berita

Ekonomi Tertekan Harapan Tak Padam: Menakar Dampak Pelemahan Nilai Tukar Rupiah di Lingkungan UPI Kampus Cibiru

Cibiru, 16 Juni 2026 — Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat memberi tekanan pada perekonomian nasional. Kondisi ini mendorong kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM) dalam beberapa waktu terakhir. Dampaknya dirasakan oleh masyarakat luas, mulai dari pelaku usaha kecil, ibu rumah tangga, hingga mahasiswa yang harus menyesuaikan pengeluaran harian.

Pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi luar, ketidakpastian kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) membuat dolar AS tetap mendominasi dan dianggap sebagai aset yang lebih aman di tengah situasi ekonomi global yang tidak menentu. Dampak dari kuatnya dolar ini dirasakan hampir di seluruh pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Sementara itu, dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah diperparah oleh tingginya permintaan valuta asing untuk kebutuhan impor serta arus investasi yang masih fluktuatif menambah tekanan terhadap rupiah.


Pandangan, Dampak yang Dirasakan, dan Harapan

Potret Ketika Selesai Wawancara Salah Satu Mahasiswa yang Berada di Lingkungan UPI Kampus Cibiru (Sumber: Perslima)

Mustika Widya Ningsih, mahasiswi Pendidikan Tata Busana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), menilai bahwa pemerintah saat ini terkesan kurang serius dalam menanggapi isu kenaikan nilai tukar rupiah, bahkan cenderung mengabaikan dampaknya bagi masyarakat. Menurut Mustika, dampak dari pelemahan ini sangat signifikan dan berpengaruh luas, terutama karena ketergantungan Indonesia pada bahan baku impor yang pembayarannya menggunakan dolar. Mustika menegaskan,

“Rupiah naik tapi kan gaji nggak naik. Terus kayak mostly barang atau bahan-bahan pokok yang kita pakai itu impor, dan impor tuh bayarnya pakai dollar.”

Potret Ketika Selesai Wawancara Salah Satu Pedagang Sekaligus Ibu Rumah Tangga yang Berada di Lingkungan UPI Kampus Cibiru (Sumber: Perslima)

Dampak serupa juga dirasakan masyarakat di tingkat rumah tangga. Ibu Tia, sebagai seorang ibu rumah tangga, membagikan perspektifnya mengenai betapa krusialnya manajemen pengeluaran rumah tangga di tengah kondisi harga pasar yang sedang tidak menentu. Ibu Tia mengungkapkan,

“Sebagai ibu rumah tangga, mungkin apa namanya tuh, bahan-bahan pokok itu meningkat. Jadi, kita harus bisa menstabilkan gimana caranya agar bisa ekonomi tetap stabil dan berjalan lancar.”

Baginya, stabilitas ekonomi keluarga kini memaksanya lebih cermat dalam mengatur pengeluaran.

Mahasiswa juga merasakan tekanan yang sama. Rafi Dawanda, mahasiswa Teknik Komputer UPI kampus cibiru menambahkan bahwa dampak yang paling terasa adalah pada sektor pangan, kenaikan harga makanan siap saji menjadi indikator nyata penurunan daya beli mahasiswa. Rafi menuturkan,

“Dampak yang paling berpengaruh sih seperti makan sih, seperti kayak saya membeli ayam geprek naik tuh Rp2.000,00. kayak nasi padang juga naik tuh Rp2.000,00.”

Kenaikan harga-harga tersebut membuat Rafi harus lebih selektif dalam memilih pengeluaran dan mengurangi pembelian hal-hal yang belum diperlukan agar tetap bisa beradaptasi dengan kondisi ekonomi yang ada saat ini.

Menanggapi situasi ini, harapan besar ditujukan kepada pemerintah untuk mengambil langkah konkret dalam menstabilkan ekonomi.

“Pemerintah perlu melakukan evaluasi terhadap kebijakan anggaran yang dinilai kurang tepat sasaran, seperti program bantuan pangan dan pengelolaan koperasi desa,” ujar Mustika.

Ia juga menambahkan bahwa pemerintah seharusnya mendengarkan masukan pakar dan tidak sekadar mengabaikan kritik masyarakat.

“Dengerin kata pakar, soalnya udah banyak banget ngasih pemerintah data apa yang harus dilakukan kalau rupiah melemah,” tambahnya.

Potret Ketika Selesai Wawancara Salah Satu Mahasiswa yang Berada di Lingkungan UPI Kampus Cibiru (Sumber: Perslima)

Sementara itu, Rafi menyoroti perlunya komitmen pejabat dalam meminimalisir praktik korupsi dan mengoptimalkan penggunaan anggaran negara.

“Ini lebih ke pejabat-pejabat sih, mending dikurangin aja korupsinya. Kalau nggak bisa dihilangkan, minimal dikurangi lah korupsinya, dan juga anggaran-anggaran yang nggak diperlukan banget nggak usah lah,” tegasnya.

Baik Mustika maupun Rafi sepakat bahwa transparansi kebijakan dan langkah konkret ditujukan kepada pemerintah untuk menstabilkan ekonomi.

Secara keseluruhan, pelemahan nilai tukar rupiah memberikan tekanan signifikan terhadap kondisi ekonomi masyarakat. Tuntutan akan evaluasi kebijakan anggaran yang efisien dan transparan menjadi poin utama yang disuarakan oleh masyarakat. Upaya pembenahan internal di jajaran pemerintahan, terutama dalam meminimalisir praktik korupsi, dipandang sebagai langkah krusial untuk memulihkan stabilitas ekonomi serta kepercayaan publik. Di sisi lain, masyarakat dituntut beradaptasi melalui pengelolaan keuangan yang lebih bijak dan bertahan di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil.


OPINI PENULIS

Sangat disayangkan, di tengah keresahan masyarakat yang semakin nyata akibat melemahnya rupiah, respons pemerintah justru terkesan lamban dan jauh dari kata solutif. Isu ini bukan sekadar fluktuasi angka di pasar modal, melainkan cerminan daya beli masyarakat yang kian menggerus inflasi harga kebutuhan pokok. Sayangnya, hingga saat ini belum terlihat adanya aksi nyata untuk meredam kekhawatiran publik.

Pemerintah diharapkan lebih terbuka terhadap masukan dari berbagai pihak, termasuk pakar dan masyarakat, untuk merumuskan kebijakan yang benar-benar mampu menjaga stabilitas ekonomi serta melindungi daya beli masyarakat. Hadirnya kebijakan yang tepat sasaran dan berorientasi pada kepentingan publik saat ini sangat dinantikan sebagai bentuk nyata bukti kehadiran negara di tengah tantangan ekonomi.

Redaktur Pelaksana: Shafiyyah Nurul.
Reporter: Riana Nur Safitri.
Penulis dan Takarir: Riana Nur Safitri.
Editor: Finfi Fazahro & Ilyasa Putra.
Foto video: Gian Rahmat Permana.
Layouter: Risma Ramadhani & Ananda Alya.

Exit mobile version