“I will never be an LCP, ever.”
Kalimat itu pernah diucapkan Ghalia kepada Gege, yang saat itu menjabat sebagai Local Committee President AIESEC in Unpad. Saat itu, menjadi Local Committee President bukanlah sesuatu yang pernah benar-benar ia bayangkan. Perubahan visi yang sedang terjadi di dalam organisasi bahkan sempat membuatnya mempertanyakan arah yang diambil oleh AIESEC. Dalam pikirannya, posisi tersebut terasa begitu jauh dari dirinya.
Namun perjalanan Ghalia, seperti banyak perjalanan lainnya, tidak selalu berjalan lurus. Setelah hampir tiga tahun berada di AIESEC, ia perlahan menemukan hal-hal yang membuatnya memilih untuk terus bertahan. Di tengah proses tersebut, Ghalia mulai menikmati waktu yang ia jalani bersama teman-temannya di organisasi ini. Ia menyadari bahwa ada sesuatu yang indah ketika melihat orang-orang begitu antusias melakukan hal yang mereka percaya bisa membawa dampak.
Seiring berjalannya waktu, Ghalia juga mulai melihat AIESEC dengan sudut pandang yang berbeda. Dengan latar belakangnya di bidang ekonomi dan bisnis, ia menjadi semakin tertarik untuk memahami bagaimana sebuah organisasi dijalankan, termasuk hubungan antarindividu di dalamnya. Bagaimana tim bekerja bersama, bagaimana keputusan dibuat, dan bagaimana berbagai proses tersebut akhirnya membentuk arah organisasi.
Hingga tumbuh keinginan Ghalia untuk berkontribusi lebih besar. Ia menyadari bahwa untuk bisa memberikan kembali pada rumahnya, ia perlu meninggalkan sesuatu yang berarti bagi organisasi ini. Perasaan itulah yang mendorongnya untuk mempertimbangkan kesempatan mengambil tanggung jawab lebih besar.
Dorongan untuk berkontribusi lebih besar perlahan berubah menjadi tekad bagi Ghalia. Ia menyadari bahwa mengambil tanggung jawab lebih besar bukan hanya menguji kemampuannya, tetapi juga memberinya kesempatan untuk meninggalkan dampak bagi orang-orang di sekitarnya. Dari tekad itu, kita bisa melihat jelas bahwa memang Ghalia adalah sosok yang tepat untuk menjabat sebagai Local Committee President of AIESEC in Unpad.
Sebagai Local Committee President terpilih, Ghalia membawa success statement “Faith in Purpose” sebagai kompas yang akan membimbing kepemimpinannya selama setahun ke depan. Bagi Ghalia, success statement ini bukan sekadar rangkaian kata, tetapi doa dan harapan yang ingin diwujudkan. Faith in Purpose dimaknai sebagai keyakinan untuk terus melangkah meskipun jalannya belum selalu terlihat jelas. Dengan semangat itu, ia berharap AIESEC in Unpad tetap menjadi panduan bagi anak muda di Jatinangor untuk menemukan arah dan tujuan mereka, sekaligus memahami bagaimana pengalaman kepemimpinan dan exchange dapat membantu menuju versi terbaik mereka.

Seperti yang pernah dikatakan oleh President of AIESEC International,
“AIESEC will be the best decision people made in their 20s.”
Bagi siapa pun yang masih ragu, pesan Ghalia sederhana: cobalah terlebih dahulu, jalani prosesnya, dan temukan sendiri perjalanan yang mungkin akan mengubah cara pandangmu ke depan. Pengalaman yang ia jalanilah, yang mengajarkan bahwa AIESEC bukan sekadar organisasi, tetapi rumah di mana setiap orang dapat belajar, berkembang, dan meninggalkan dampak. Dengan keberanian untuk mengambil langkah lebih besar, Ghalia berharap semakin banyak anak muda berani mencoba, menemukan arah mereka, dan ikut membentuk perubahan bagi dunia.

Written by: Peace Kenisha Shaia





