Bandung, 1 November 2025 – Suasana penuh semangat dan kepedulian sosial mewarnai Diskusi Publik Milad ke-39 LPM Suaka berjudul “Menyuarakan Pandangan, Keresahan, serta Gagasan terhadap Kondisi Sosial, Lingkungan, Pendidikan, dan Budaya di Kota Bandung.” Acara yang berlangsung di Aula Student Center Kampus 1 UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini menjadi wadah bagi remaja, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk menyuarakan kegelisahan sekaligus harapan mereka terhadap arah pembangunan Kota Bandung.

Diskusi ini dihadiri oleh pelajar, mahasiswa, alumni, dan berbagai komunitas kreatif. Diskusi ini menjelaskan pentingnya peran generasi muda dalam pembangunan kota. Di tengah banyaknya terjadi modernisasi, para peserta menyoroti menurunnya minat remaja terhadap isu sosial dan lingkungan akibat minimnya ruang ekspresi yang terbuka dan ramah.

Para pembicara menyoroti pentingnya media independen dan gerakan kritis anak muda dalam membangun kesadaran publik. Menurut mereka, media mahasiswa dan komunitas literasi memiliki peran besar dalam membentuk ruang partisipasi yang demokratis.

Diskusi ini mencakup 4 subpokok pembahasan utama; Suara dan partisipasi remaja di Kota Bandung saat ini, Media independen dan Gerakan kritis anak muda, peran pers mahasiswa dalam isu sosial, serta Pembangunan ekosistem partisipasi yang inklusif. Dalam sesi terbuka, banyak peserta menyoroti isu lingkungan dan pendidikan yang dianggap belum sepenuhnya berpihak pada remaja dan pelajar.
Acara yang berlangsung selama 120 menit ini juga diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi konkret dan kolaboratif dari berbagai kalangan muda Bandung. LPM Suaka sebagai penyelenggara berharap kegiatan ini menjadi ruang lahirnya gagasan baru yang membangun Bandung lebih partisipatif, kritis, dan berdaya.
Diskusi diakhiri dengan penyampaian pesan penutup yang menggugah semangat kolaborasi lintas generasi. Peserta diajak untuk terus berpartisipasi aktif dalam isu sosial, lingkungan, dan budaya melalui media dan kegiatan kolektif.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa suara remaja masih menggema kuat di Bandung—mereka tidak hanya mengamati, tetapi juga turut berperan dalam menulis masa depan kotanya sendiri.
Foto Video: Nabila Nurhidayat
