PERSLIMA Berita Bukan Sekadar Webinar: AFL Bandung Cetak Pemimpin Muda Lewat Analytical Thinking
Berita

Bukan Sekadar Webinar: AFL Bandung Cetak Pemimpin Muda Lewat Analytical Thinking

Bandung, 25 April 2026 — Sabtu pagi itu, 159 pemuda dari 12 universitas di Bandung menyalakan layar mereka dan bergabung di satu ruang Zoom yang sama. Bukan untuk kuliah, bukan untuk rapat, tapi untuk memulai sesuatu yang berbeda. AIESEC in Bandung resmi menggelar sesi Capacity Building pertama (CB 1) dari program AFL (AIESEC Future Leaders) Summer Peak 2026, dengan satu misi yang tertulis jelas dalam tema mereka: “Start the Adventure, Becomes the Future Leader.”

Topik yang dipilih untuk sesi perdana ini bukan yang paling mudah, tapi justru yang paling mendasar: Analytical and Strategic Thinking. Sesi ini dipandu oleh Keita Kamil Rahardyan, seorang Technical Business Analyst dari PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel), salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia. Membawa perspektif dunia kerja yang sesungguhnya, Keita membedah bagaimana cara berpikir analitis dan strategis bukan hanya relevan di lingkungan korporat, melainkan juga krusial bagi siapa pun yang ingin membangun sesuatu dari nol.

(Original pic: Here)

Dalam sesinya, Keita memperkenalkan peserta pada kerangka berpikir bisnis yang konkret, termasuk Business Model Canvas (BMC) — alat yang luas digunakan pelaku startup dan bisnis untuk memetakan model usaha secara menyeluruh. Peserta tidak hanya diajak memahami teorinya, tetapi juga langsung mengaplikasikannya lewat studi kasus nyata. Pendekatan yang praktis ini terbukti efektif: diskusi dalam sesi berlangsung hidup, dengan peserta yang aktif bertanya dan mencoba memetakan ide bisnis mereka sendiri.

Jesika Monelisa Penu, salah satu delegasi, adalah salah satu dari mereka yang merasa sesuatu berubah setelah sesi ini.

“Saya jadi sadar bahwa ketika ingin memulai bisnis, kita tidak hanya perlu tahu siapa target pasarnya atau apa strategi penjualannya — tapi juga perlu memahami biaya yang terlibat dalam meluncurkan startup, bagaimana membangun hubungan dengan pelanggan setelah mereka mencoba produk, dan apa yang terjadi sebelum serta setelah mereka mengenal produk kita. Ada banyak hal yang harus dipikirkan, dan menurut saya itu sungguh luar biasa!”

Pengakuan seperti ini bukan sekadar apresiasi. Ini adalah tanda bahwa yang terjadi di CB 1 bukan hanya transfer informasi, tapi pembukaan cara pandang.

Ke-159 peserta sendiri datang dari latar belakang yang beragam: Telkom University, Universitas Pendidikan Indonesia, UIN SGD Bandung, Institut Teknologi Bandung, Universitas Komputer Indonesia, Binus University, Politeknik Negeri Bandung, Universitas Padjadjaran, IT Nasional Bandung, Universitas Jenderal Achmad Yani, Poltek Manufaktur Bandung, dan Poltekkes Kemenkes. Rata-rata berusia 19 tahun, sebagian besar masih di awal perjalanan kuliah mereka. Dan justru di sinilah AFL paling relevan, ketika kebiasaan berpikir masih bisa dibentuk, bukan diperbaiki.

Bagi AIESEC in Bandung, AFL bukan sekadar rangkaian pelatihan. Program ini dirancang untuk mendorong peserta aktif berkontribusi, bersosialisasi lintas kampus, dan membangun kapasitas yang nyata, mulai dari cara berpikir strategis hingga kemampuan menyusun pitch deck bisnis. Format daring lewat Zoom pun dipilih bukan karena keterbatasan, tapi karena inklusivitas: semua peserta dari kampus mana pun bisa hadir setara, tanpa hambatan jarak.

Dengan CB 1 yang berjalan penuh antusias, satu hal sudah jelas: 159 pemuda Bandung ini tidak datang untuk sekadar hadir. Mereka datang untuk berubah. Dan perjalanan itu baru saja dimulai.


AFL Summer Peak 2026 merupakan program pengembangan kapasitas yang diinisiasi oleh AIESEC in Bandung. Untuk informasi lebih lanjut, ikuti kanal media sosial resmi AIESEC in Bandung.

Exit mobile version