Berita

Guru Hebat, Indonesia Kuat: Refleksi Panjang Pendidikan dari Lorong Kampus UPI Cibiru

Bandung, 26 November – Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) yang jatuh setiap tanggal 25 November bukan sekedar ritual tahunan atau seremonial belaka. Di balik riuh perayaan dan ucapan selamat, tersimpan sejarah perjuangan panjang, tantangan era digital, dan harapan jutaan tenaga pendidik yang menjadi tulang punggung bangsa.

Tahun ini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah “Kemendikdasmen” mengusung tema besar “Guru Hebat, Indonesia Kuat”. Tema ini menjadi pengingat bahwa kualitas bangsa di masa depan sangat bergantung pada kualitas manusianya, dan kualitas manusia ditentukan oleh siapa yang mendidiknya di ruang-ruang kelas.

Foto Bersama Narasumber (Sumber: Perslima)

Jejak Sejarah: Dari PGHB hingga Keppres 1994 Memahami Hari Guru Nasional tidak bisa dilepaskan dari akar sejarah pergerakan kebangsaan. Semangat ini telah menyala sejak masa kolonial Belanda. Pada tahun 1912, guru-guru pribumi mulai dari Guru Desa, Guru Bantu, hingga Kepala Sekolah berhimpun dalam Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB).

Keberanian kaum pendidik semakin terlihat pada tahun 1932, ketika 32 organisasi guru melebur menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Penggunaan kata “Indonesia” kala itu adalah sebuah manifesto politik yang berani melawan pemerintah kolonial. Puncaknya, semangat ini dikukuhkan oleh pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994 yang menetapkan 25 November sebagai Hari Guru Nasional.

Potret Raksasa Pendidikan Indonesia Hari ini, beban sejarah tersebut dipikul oleh jutaan pundak pendidik. Berdasarkan data terbaru dari Portal Data Pendidikan Kemdikbud per 25 November 2025, Indonesia memiliki total 4.538.178 pendidik dan tenaga kependidikan aktif.

Angka ini menunjukkan skala masif sistem pendidikan nasional. Jenjang Sekolah Dasar (SD) menyumbang jumlah terbesar dengan 1.892.817 guru, disusul jenjang SMP sebanyak 883.686 orang, dan SMA sebanyak 453.047 orang. Jutaan guru inilah yang kini berdiri di garda terdepan menghadapi tantangan zaman yang berubah drastis.

Foto Bersama Narasumber (Sumber: Perslima)

Perspektif Dosen: Menjadi Guru yang Futuristik Di lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Cibiru, diskursus mengenai tantangan guru modern dibahas secara mendalam. Yusuf Tri Herlambang, salah satu dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UPI Kampus Cibiru, menekankan bahwa peran guru saat ini telah bergeser jauh dari sekadar penyampai materi.

“Tantangan terbesar saya sebagai pendidik adalah kita tidak bisa lagi mengajar secara mekanis atau sekadar transfer of knowledge. Kita harus menjadikan anak didik tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara spiritual dan bermoral,” ujar Yusuf.

Yusuf menjabarkan tiga kompetensi vital yang harus dimiliki guru di era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, yakni Adaptif, Progresif, dan Futuristik.

“Mengutip Ali bin Abi Thalib, ‘Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya’. Guru harus punya kemampuan futuristik, bisa melihat masa depan. Kita harus menjadikan anak-anak tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga cerdas secara spiritual,” tambah Yusuf.

Suara Mahasiswa: Antara Idealisme dan Realitas Lapangan Semangat untuk meneruskan estafet pendidikan ini terasa kuat di kalangan mahasiswa PGSD UPI Cibiru. Bagi mereka, menjadi guru adalah panggilan hati yang terinspirasi dari sosok-sosok teladan.

Foto Bersama Narasumber (Sumber: Perslima)

Akhyar Muhiudin, mahasiswa PGSD, mengenang gurunya di masa kecil. “Saya terinspirasi dari guru waktu kecil. Bayangkan, kita belum tahu satu huruf pun, tapi beliau dengan sabar mengajar sampai kita bisa membaca,” ungkapnya. Senada dengan Akhyar, Tania Indriani menjadikan ibunya yang juga seorang guru sebagai inspirasi utama.

Namun, mahasiswa juga kritis menyoroti realitas kesejahteraan dan fasilitas pendidikan. Nisa Tasya Angelina, menyoroti ironi digitalisasi “Pemerintah menuntut guru harus melek teknologi. Tapi di lapangan, banyak sekolah yang fasilitasnya tidak memadai. Ini menjadi beban berat bagi guru,” kritik Nisa.

Isu kesejahteraan guru honorer juga menjadi perhatian utama. Tania dan Samira menyayangkan ketimpangan pendapatan guru yang tidak sebanding dengan beban kerja yang berat, terutama dalam menghadapi karakter siswa Gen Z dan Alpha yang kritis.


Opini Redaksi

Guru Hebat Butuh Dukungan Nyata Redaksi First News memandang bahwa tema “Guru Hebat, Indonesia Kuat” tidak boleh berhenti sebagai jargon semata. Guru memang dituntut untuk hebat juga adaptif terhadap teknologi, progresif dalam pedagogi, dan futuristik dalam visi seperti yang disampaikan oleh akademisi Yusuf Tri Herlambang. Namun, kehebatan individu guru akan sulit bertahan tanpa ekosistem yang mendukung.

Data 4,5 juta guru di Indonesia adalah aset bangsa, bukan sekadar angka statistik. Negara harus hadir tidak hanya dalam bentuk tuntutan kurikulum atau administrasi, tetapi juga dalam bentuk jaminan kesejahteraan yang layak dan pemerataan fasilitas teknologi hingga ke pelosok. Mustahil mengharapkan “Indonesia Kuat” jika “Guru Hebat” masih harus berjibaku dengan gaji yang tidak manusiawi dan fasilitas yang minim.

Momentum Hari Guru Nasional 2025 ini harus menjadi titik balik: dari sekadar memuji jasa guru, menjadi aksi nyata memuliakan profesinya.

Reporter: Rinaldi & Aigretta Maharani
Penulis: Irvan Rizqi Lase
Foto & Video: Nazwa Kusumawicitra & Livia Aliyah Alfita
Editor: Shillva Mardiana Ressywijaya
Redaktur Pelaksana: Adillatus Silfi & Salwa Asyifa Sabila

REFERENSI
https://www.orami.co.id/magazine/ucapan-hari-guru