Di tengah dinamika kehidupan perkuliahan yang semakin kompleks, berbagai maraknya kasus yang terjadi di berbagai kampus. Seperti mental issue, kekerasan seksual, bullying, tekanan akademik dan kasus-kasus lainnya yang kerap kali mengganggu kesejahteraan mahasiswa, menjadi salah satu aspek penting yang perlu mendapat perhatian bersama. Berangkat dari kepedulian tersebut, hadir sebuah gerakan mahasiswa bernama “We Hear It” di Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Cibiru sebagai ruang yang berfokus pada kesejahteraan mahasiswa secara menyeluruh.
Sejarah Singkat Berdirinya We Hear It

Sebelum dikenal sebagai We Hear It (WHI), gerakan ini berawal dari sebuah wadah bernama Student Research and Intelligence (SIAR) yang telah hadir sejak tahun 2017. Pada masa tersebut, SIAR berfokus pada kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Salah satu penelitian yang pernah dilakukan mengangkat isu pernikahan dini di Kabupaten Bandung. Berangkat dari berbagai temuan dan pengalaman dalam proses penelitian tersebut, perhatian organisasi mulai berkembang pada isu-isu kesejahteraan dan perlindungan mahasiswa, termasuk persoalan kekerasan seksual di lingkungan kampus.
Perjalanan transformasi menuju We Hear It tidak terlepas dari meningkatnya urgensi penanganan kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus. Pada sebuah forum Rapat Dengar Pendapat yang melibatkan jajaran pimpinan kampus sekitar tahun 2018, muncul pengakuan dari korban pelecehan seksual yang menjadi perhatian bersama. Menanggapi hal tersebut, dilakukan survei dan penggalian data secara berkelanjutan selama kurang lebih satu tahun yang kemudian melahirkan tim beranggotakan sembilan orang untuk mengkaji dan merespons persoalan tersebut secara lebih serius. Dari proses inilah lahir semangat baru yang kemudian berkembang menjadi We Hear It, sebuah gerakan yang tidak hanya berfokus pada penelitian, tetapi juga pada advokasi, edukasi, pencegahan, serta penciptaan ruang aman bagi civitas akademika.
We Hear It (WHI) kemudian resmi dibentuk pada tahun 2020 sebagai wadah yang berupaya melakukan pengadvokasian dan pencegahan preventif melalui edukasi seputar mental health, kekerasan seksual, gender, dan pemberdayaan perempuan. Seiring perkembangannya, pada tahun 2023 WHI memperluas pemaknaan ruang lingkup kampus yang aman dengan mengangkat isu inklusivitas sebagai bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang nyaman bagi seluruh mahasiswa.
Bagaimana We Hear It Bekerja?

“We Hear It” bukan sekadar wadah yang membahas kesehatan mental, melainkan sebuah gerakan yang mencoba mendengar, memahami, dan membersamai berbagai persoalan mahasiswa. Mulai dari tekanan akademik, relasi sosial, keresahan pribadi, hingga kebutuhan akan ruang aman untuk menyampaikan aspirasi dan keluh kesah. Gerakan ini hadir dengan keyakinan bahwa kesejahteraan mahasiswa tidak hanya dilihat dari kondisi psikologis semata, tetapi juga dari bagaimana mahasiswa merasa didengar, dihargai, dan didukung selama menjalani proses pendidikan.
Melalui berbagai program dan pendekatan yang humanis, “We Hear It” berupaya menciptakan lingkungan kampus yang lebih suportif dan inklusif. Kegiatan yang dilakukan pun beragam, mulai dari ruang diskusi, pendampingan mahasiswa, penyebaran edukasi, hingga menjadi jembatan komunikasi antara mahasiswa dan pihak terkait dalam menyuarakan kebutuhan kesejahteraan mahasiswa.
Keberadaan “We Hear It” menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya membutuhkan ruang untuk belajar secara akademik, tetapi juga ruang untuk bertumbuh sebagai individu. Di tengah tuntutan perkuliahan yang sering kali melelahkan, gerakan ini hadir sebagai pengingat bahwa setiap mahasiswa berhak merasa aman, nyaman, dan diperhatikan.
Dengan tagline “Kami Mendengar, Kamu Bersuara”, “We Hear It” diharapkan mampu menjadi langkah kecil yang membawa dampak besar bagi terciptanya lingkungan kampus yang lebih peduli terhadap kesejahteraan mahasiswa secara menyeluruh.
Penulis: Finfi Faz
Layouter: Risma Ramadhani dan Ananda Alya Puteri. M





