Berita

UKM dan Ormawa Kampus UPI Cibiru Memerlukan Arah Gerak Baru

Cibiru, Bandung, Perslima.com – Mahasiswa masa kini tidak lagi terpaku pada kegiatan di dalam kampus. Mereka punya pilihan magang industri, platform freelance, dan komunitas digital yang menjanjikan hasil nyata dalam bentuk portofolio dan relasi profesional. Dalam konteks itu, peran Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) di UPI Cibiru dipertanyakan.

Apakah mereka masih mampu menjawab kebutuhan generasi yang haus akan efisiensi dan keahlian? Jika tidak segera berbenah, organisasi kemahasiswaan hanya akan menjadi warisan ritual tanpa esensi.

Kampus UPI Cibiru (Sumber: https://kd-cibiru.upi.edu/)

Format Kegiatan Lama Telah Usang

Sebagian besar kegiatan UKM di UPI Cibiru masih didominasi oleh acara non-esensial yang berulang tahun demi ulang tahun, tanpa evaluasi dampak jelas. Tradisi yang dijaga sering kali berwujud lomba formal atau diskusi terbatas yang hanya melibatkan lingkaran inti anggota atau program studinya.

Model eksklusif ini tidak mempertimbangkan keragaman minat dan latar belakang mahasiswa, sehingga wajar jika animo dan tingkat keaktifan masih rendah. Sementara itu, mahasiswa mencari aktivitas yang bisa memperkaya CV, memperluas jaringan, atau melatih keterampilan teknis.


Kesenjangan Manfaat

UKM dan Ormawa sering mengklaim sebagai laboratorium kepemimpinan dan manajemen proyek, tetapi realitasnya masih jauh dari kata profesional. Target kegiatan yang sekadar formalitas, serta minimnya kolaborasi eksternal menunjukkan lemahnya tata kelola. Mereka juga diformat seperti sebuah event organizer alih-alih organisasi kemahasiswaan. Output dan fokus kepengurusan dihitung berdasarkan berapa banyak program kerja yang diselesaikan, bukan esensi maupun pengembangan diri yang didapatkan.

Kebijakan keharusan 100 poin ekstrakurikuler berdasarkan Keputusan Rektor No. 26 Tahun 2023 juga lebih menjadi statistik administratif daripada pendorong pembelajaran mendalam. Hasilnya, mahasiswa menyikapi kegiatan kemahasiswaan sebagai beban pelengkap syarat sidang, bukan peluang mengasah kompetensi.

Realita di lapangan juga menunjukkan masih sering munculnya hambatan terkait minimnya peserta dan panitia dalam berbagai acara. Hal ini menjadi sinyal bahwa minat terhadap kegiatan kemahasiswaan di Kampus UPI Cibiru masih minim.


Menggagas Arah Gerak Baru

Reformasi sejati menuntut pergeseran paradigma, dari mengejar kuantitas tradisi menuju kualitas kompetensi. Pertama, setiap program harus dirancang berbasis output terukur, apakah mahasiswa keluar dengan berbagai soft skill yang lebih baik, pengalaman riset pasar, atau portofolio proyek sosial?

Kedua, ormawa perlu membangun kemitraan dengan institusi industri dan lembaga masyarakat untuk menyediakan program pelatihan, studi kasus lapangan, pengabdian masyarakat, atau mentoring profesional.

Ketiga, evaluasi pasca-kegiatan harus disusun secara sistematis untuk mengukur dampak dan mengambil pelajaran untuk penyelenggaraan selanjutnya, bukan hanya terbatas pada evaluasi panitia.


Upaya Menggagas Arah Gerak Baru

BEM UPI Cibiru Kabinet Samakarsa telah memulai langkah-langkah inovatif. Alih-alih membatasi pelaksanaan Sholat Idul Adha hanya pada anggota, mereka membuka ke semua mahasiswa. Kegiatan pengabdian masyarakat juga dirancang kolaboratif, melibatkan berbagai prodi sehingga mahasiswa lintas disiplin tumbuh dalam kerja tim yang sesungguhnya.

Kabinet Samakarsa juga melibatkan berbagai pihak baik Badan Olahraga Mahasiswa (BOMA) maupun lembaga kampus untuk menyalurkan minat bakat mahasiswa dalam mengikuti perlombaan di luar kampus.

Pelatihan komunikasi asertif juga diadopsi sebagai bagian dari program pelatihan untuk mentransformasi organisasi menjadi wadah pembelajaran soft skill yang relevan.


Lembaga Perlu Terlibat Aktif

Memperbaiki UKM dan Ormawa bukan semata tugas aktivis maupun pengurus organisasi, lembaga kampus juga harus turun tangan dengan regulasi yang tegas. Skema insentif berupa pengakuan SKS atau beasiswa berbasis kontribusi nyata dapat memacu antusiasme.

Alokasi dana untuk kegiatan kemahasiswaan juga harus ditingkatkan, disertai standarminimal kualitas acara. Selain itu, tim penilai independen dapat ditugaskan untuk meninjau proposal program, memastikan setiap kegiatan memenuhi kriteria profesional, inovatif, dan berdampak.

Hanya organisasi yang berani meninggalkan zona nyaman tradisi yang akan tetap relevan. UKM dan Ormawa UPI Cibiru harus merumuskan visi bersama, menjadi laboratorium kepemimpinan, kemampuan teknis, jejaring profesional, dan agen perubahan sosial. Kolaborasi internal lintas ormawa dan kerja sama eksternal dengan industri atau komunitas masyarakat menjadi kunci.

Transformasi ini menuntut komitmen kolektif dari pengurus, anggota, hingga lembaga kampus agar organisasi kemahasiswaan tidak sekadar wacana, tetapi agen nyata yang memberdayakan mahasiswa menghadapi tantangan masa depan.

Ditulis oleh Muhammad Syafi’i Nurullah (kontributor luar PERSLIMA) untuk kolom Opini/Penulis Bebas. Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.