Bandung, 10 Oktober 2025 – Suasana kampus UPI Cibiru sore itu tampak seperti biasa: mahasiswa berlalu-lalang dengan tugas di tangan, sebagian duduk santai di taman kampus. Namun di balik keceriaan itu, ada kisah lain yang jarang terdengar tentang bagaimana tekanan akademik, adaptasi lingkungan, hingga rasa rindu rumah bisa mengusik keseimbangan mental para mahasiswa.

Tema peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025, “Access to Services – Mental Health in Catastrophes and Emergencies”, menjadi refleksi penting bagi dunia pendidikan tinggi termasuk UPI Cibiru untuk membuka akses dan membangun kesadaran kesehatan mental di lingkungan akademik.
Awal Adaptasi: Mental Mahasiswa Baru Diuji
Bagi mahasiswa baru, masa awal kuliah sering kali menjadi tantangan psikologis tersendiri. Alwah Fariz Askar, mahasiswa Pendidikan Multimedia 1B, mengaku mengalami tekanan sejak hari pertama orientasi

“Pas mulai kaderisasi, tugasnya banyak banget. Dari situ mulai ngerasa capek, beda banget sama SMA. Kalau di rumah masih bisa santai, tapi di sini harus ngatur waktu sendiri,” ujarnya.
Alwah juga sempat merasakan homesick yang cukup berat. “Kalau malam suka keinget rumah, pengen pulang. Apalagi pas capek, lapar, terus sendirian di kosan,” tambahnya.
Sementara itu, Haidar Muzaffar Hakim dari kelas 1C menyoroti sisi ekonomi dan penyesuaian waktu.
“Kaget sama pengeluaran, tugas-tugas, dan waktu istirahat yang berkurang. Dulu weekend bisa santai, sekarang sering dipakai buat nugas,” ungkapnya.
Fenomena ini sejalan dengan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, yang menyebut bahwa kelompok usia 15–24 tahun memiliki prevalensi depresi tertinggi 2%. Sayangnya, kelompok ini juga paling sedikit mencari bantuan profesional hanya 10,4% dari total kasus.
Dosen: Seimbang Antara Akademik dan Psikologis
Mirawati, S.Pd., M.Pd., dosen dari Program Studi Pendidikan Guru PAUD, menegaskan pentingnya keseimbangan antara kesehatan fisik dan psikis bagi mahasiswa.

“Mahasiswa yang sehat mentalnya akan lebih produktif dan bahagia. Jadi bukan hanya fisik yang dijaga, tapi juga psikisnya,” ujarnya.
Ia menilai manajemen waktu menjadi langkah preventif utama untuk menghindari kelelahan mental.
“Biasanya mahasiswa menumpuk tugas di akhir. Akhirnya stres. Coba petakan jadwal sejak awal. Dan kalau sudah merasa kewalahan, jangan ragu datang ke pembimbing akademik. Kita di sini bukan cuma untuk nilai, tapi juga untuk mendengar,” jelasnya.
Pandangan Mirawati sejalan dengan penelitian Klinik Keluarga (2024) yang menyebut gangguan mental berpengaruh pada fokus, kreativitas, dan interaksi sosial, sehingga menurunkan produktivitas belajar maupun bekerja.
Layanan Kesehatan Kampus: Luka Luar dan Luka Dalam
Tidak hanya dosen, pihak layanan kesehatan kampus juga ikut berperan. Gira Lugina, perawat dari UPT Layanan Kesehatan UPI Cibiru, menjelaskan bahwa beberapa mahasiswa datang dengan kasus self-harm atau self-injury.

“Kalau ada mahasiswa yang luka, kami obati fisiknya dulu. Setelah itu diarahkan ke psikolog. Luka luar bisa disembuhkan, tapi luka dalam juga perlu dirawat,” ungkapnya.
Menurut data WHO (2025), kurang dari 10% penderita gangguan mental di negara berpenghasilan rendah yang menerima perawatan memadai termasuk Indonesia. Kondisi ini menunjukkan bahwa akses layanan masih menjadi tantangan besar, terutama di kalangan mahasiswa.
Mahasiswa Peduli Mahasiswa: Gerakan We Hear It
Di tengah keterbatasan akses formal, muncul gerakan mahasiswa yang peduli terhadap isu kesehatan mental. Salah satunya adalah UKM We Hear It (WHI), sebuah organisasi dukungan sebaya yang menyediakan layanan konseling dan edukasi.

Finfi Fazahro, anggota WHI, menjelaskan bahwa mahasiswa dapat mengajukan sesi konseling melalui tautan di akun Instagram mereka.
“Setelah booking, kita atur jadwal dan dengarkan dulu kebutuhannya. Kalau sudah di luar kapasitas mahasiswa, baru kita arahkan ke profesional,” katanya.
WHI juga aktif mengadakan seminar dengan psikolog kampus dan profesional kesehatan. “Lewat seminar, mahasiswa belajar mengenali diri dan memahami pentingnya mencari bantuan,” tambah Kaila Zahra, rekan satu tim Finfi.
Membangun Kesadaran Baru di Kampus
Kesehatan mental kini menjadi tema besar di kalangan mahasiswa, bukan hanya sebagai isu, tetapi juga gerakan. Dukungan dosen, tenaga medis, dan komunitas mahasiswa menunjukkan langkah nyata menuju kampus yang inklusif dan peduli mental.
Sebagaimana ditekankan dalam tema WHO 2025, akses layanan dan empati menjadi kunci. Mahasiswa seperti Alwah percaya bahwa berbicara adalah langkah awal yang penting.
“Adaptasi itu nggak sebentar, tapi kita nggak sendiri. Ada banyak yang siap dengerin,” ujarnya menutup perbincangan.
[OPINI REDAKSI]
Menjaga kesehatan mental di kampus bukan lagi sekadar wacana. Ia adalah kebutuhan nyata yang menuntut keberanian untuk bicara dan kesediaan untuk mendengar. UPI Cibiru telah menunjukkan langkah awal yang inspiratif, kini tantangannya adalah memastikan dukungan itu berkelanjutan.
Reporter: Irvan Rizqi Lase
Foto & Video: Nazwa Kusumawicitra
Editor: Shillva Mardiana Ressywijaya
Layouter: Ananda Alya Puteri Munggaran
Redaktur Pelaksana: Adillatus Silfi
Spotify: perslima
Facebook: Perslima UPI Cibiru
X (Twitter): @perslima_upi
Line: @ism2616p
Website: perslima.com
E-mail: perslimaupicibiru@gmail.com
